Anda di sini

Eksplorasi Belitung diatas roda

Tanggal : 27 Maret 2014
Kota : Tanjung Pandan, Kep. Bangka Belitung
Jarak : 35 km
Kategori : Road
Level : Beginner
Durasi : 1/2 hari
GPS : Download
Rating :
0

Sejalan dengan kemunculan kelas menengah di Indonesia, kebutuhan untuk berwisata ikut meningkat. Daerah wisata utama dianggap ‘terlalu biasa’ sehingga banyak wisatawan khususnya domestik mulai mengalihkan perhatian mereka ke daerah tujuan wisata baru, Belitung salah satunya. Belitung mulai dikenal beberapa tahun terakhir dengan pesona pantai dengan batu-batu besar yang menghiasinya. Ditambah dengan munculnya novel trilogy “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata tentang kisah perjuangan seorang anak untuk menuntut ilmu, yang karena inspirasinya kisah inipun diangkat ke layar lebar, pesona keindahan Belitung pun semakin terdongkrak.

Laut dan pantai dengan pasir putih dan barisan batu-batu besar adalah yang paling diminati. Namun, daratan Belitung juga tidak kalah menarik. Cerita penemuan timah pertama kali abad ke-18 menjadi tonggak dimulai kegiatan penambangan oleh pemerintah Belanda ketika itu. Budaya masyarakatnya sendiri cukup beragam dimana lapisan masyarakat dapat dibagi menjadi orang laut (sekah/sekak) dan orang daratan. Suku laut disebut demikian karena menjalani dan menggantungkan kehidupannya dari lautan dan mereka nelayan yang handal. Orang daratan sendiri terdiri mayoritas etnis tionghoa dan melayu yang bermata pencarian sebagai petani, peladang dan berdagang.

Bertepatan dengan satu acara kantor di Tanjung Pandan, saya gunakan kesempatan ini untuk mengeksplorasi Belitung dengan cara yang sedikit berbeda, bersepeda. Bukan berarti saya tidak suka laut dan pantai, tetapi saya memanfaatkan waktu disela kepadatan acara kantor. Saya cukup beruntung bertemu teman lama sewaktu bimbingan UMPTN di Yogya yang mengantarkan saya mengeksplorasi Pulau Lengkuas dan sekitarnya.

Jam 5.00 saya sudah bersiap di kamar hotel di pinggir Pantai Tanjung Pendam. Saya lihat keluar masih cukup gelap dan saya putuskan berangkat ketika langit terlihat terang. Jauh sebelumnya, saya mulai mencari informasi dimana bisa menyewa sepeda di Kota Tanjung Pandan. Seorang kawan memberi tahu dan darinya saya lalu menghubungi kontak yang diberikan. Tanpa banyak basa-basi, satu sepeda MTB saya pesan untuk merealisasikan rencana saya.

Dan pagi itu saya mulai mengayuh MTB 6 speed dengan perasaan gembira. Dengan kecepatan sebanyak 6 speed saya merasa cukup karena medan yang dihadapi kebanyakan dataran (flat). Walaupun saya menyadari bahwa keputusan mengambil sepeda MTB adalah kesalahan karena seharusnya saya menyewa sepeda jenis road bike. Nasi sudah menjadi bubur, saya nikmati saja perjalanan ini. Pagi itu saya mengayuh mengikuti jalan raya ke arah Utara. Bagian Utara Pulau Belitung terdapat beberapa pantai seperti Pantai Tanjung Binga, Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi. Saya optimis bisa mencapai salah satu pantai itu dalam perjalanan pagi itu.

Tanjung Kubu

Sepanjang jalan saya melintasi pemukiman penduduk yang terbilang cukup sederhana. Rumah panggung asli beberapa masih berdiri walau dalam kenyataannya mereka lebih memilih membangun rumah baru dan membiarkan rumah-rumah panggung runtuh dimakan waktu. Melewati Tanjung Kubu, ada dermaga kecil tempat kapal nelayan dan bagang merapat. Bagang adalah kapal yang didesain sedemikian rupa untuk menangkap ikan teri. Bagang tidak punya motor sendiri dan biasanya ditarik kapal lain sampai di lokasi penangkapan. Bagang hanya beroperasi ketika malam hari.

Desa Terong

Perjalanan saya lanjutkan mengarah ke Pantai Tanjung Tinggi, sampai di sebuah desa yang namanya unik, Desa Terong. Tentu ini tidak ada hubungannya dengan buah terong yang dipakai sebagai sayuran, atau istilah yang beken saat ini ‘terong-terongan’. Terong adalah nama sungai di desa itu, sama seperti dengan sungai Kubu di muara Tanjung Kubu, hanya saja sungai Terong tidak sebesar sungai Kubu. Saya berhenti disini dan berbincang dengan penduduk setempat disebuah warung. Penduduk desa Terong kebanyakan bekerja di daratan daripada di lautan. Kelapa sawit menjadi primadona di Belitung dan banyak petani mulai membuka lahan termasuk kebun skala kecil. Mengingat keuntungan yang ditawarkan tidak mengherankan banyak petani yang memiliki lahan kelapa sawit walaupun investasi awal cukup besar.

Usai berbincang, saya lihat jam sudah menunjukkan jam 7 lewat dan saya segera pacu sepeda kembali ke kota Tanjung Pandan karena rapat kantor yang akan dimulai jam 8.30 pagi. Padahal menurut warga desa Terong, Pantai Tanjung Binga tinggal 7 km lagi. Pilihan yang sulit dan saya mengambil yang tersulit, yaitu kembali ke hotel.

Rumah Tuan Kuase

Keesokan harinya, saya lanjutkan eksplorasi dan saya putuskan untuk bersepeda didalam kota. Atraksi wisata didalam kota tidak kalah menarik. Awalnya saya menuju rumah administrator penambangan timah yang berdiri sejak jaman Belanda. Rumah Tuan Kuase (Hoofdadministrateur) sebagaimana masyarakat lokal menyebut merupakan salah satu Bangunan Cagar Budaya yang saat ini dikelola oleh Pemda. Tidak jauh dari rumah Tuan Kuase, saya lanjutnya meng-gowes ke obyek wisata Tanjung Pendam dan menuju Pelabuhan Laskar Pelangi sekitar 1 km dari Tanjung Pendam.

Pelabuhan Tanjung Pandan dan Pasar Ikan

Penumpang yang akan menuju Jakarta maupun ke Sumatra (Palembang, Bangka, Batam) berangkat dari Pelabuhan Tanjungpandan. Melejitnya novel dan film Laskar Pelangi  menjadikan terminal penumpang dinamakan terminal penumpang Laskar Pelangi yang diresmikan tahun 2011. Pelabuhan ini juga merupakan pelabuhan barang dimana banyak kapal menaikturunkan barang. Tidak jauh sini, pelabuhan pasar ikan terlihat sudah sibuk pagi itu.

Rumah adat Belitung

Saya lanjutkan perjalanan ke Rumah Adat Belitung yang terletak di samping rumah dinas Bupati Belitung. Rumah ini cukup menonjol diantara bangunan sekitarnya karena letaknya di sudut jalan. Didalamnya terdapat berbagai benda seni masyarakat Belitung seperti diorama ruang pengantin dan perlengkapannya, foto-foto yang diambil dari masa penjajahan Belanda yang menceritakan sejarah dan etnografi masyarakat Belitung.

Museum Tanjung Pandan

Dari rumah adat, saya arahkan sepeda ke pusat kota menuju museum Tanjung Pandan. Jalanan yang agak menurun membantu saya menghemat tenaga. Museum ini awalnya bernama Museum Perusahaan Negara Tambang Timah Belitung yang menyimpan koleksi batuan hasil tambang. Tidak heran ketika memasuki museum terdapat replika kapal pengeruk timah dan dibagian belakang terdapat koleksi jenis bebatuan yang ada di Belitung dan diorama tipologi cara menambang timah di daratan. Selain itu terdapat koleksi porselin Cina yang diangkat dari kapal karam, senjata, hingga mata uang kuno Indonesia dalan berbagai nominal dan tahun keluaran. Koleksi dari kapal karam merupakan penemuan penting karena kapal tradisional Arab (dhow) tenggelam dalam perjalanannya menuju China serta telah berusia hampir 2 abad dan baru ditemukan diperairan Belitung sekitar tahun 1998.

Kota Tua Tanjung Pandan

Kota Belitung tidak hanya indah pantainya, diseputaran kota masih tersimpan bangunan kuno bekas peninggalan Belanda. Disekitar museum Tanjung Pandan, dimasa lalu merupakan kota tua yang menyimpan sejarah yang menarik. Ambil saja hoofdkantoor di bundaran Tanjung Pandan merupakan landmark yang unik kini menjadi hotel Billiton. Ada lagi seperti Rumah Kapiten Phang Tjong Toen yakni seorang mandor Tionghoa yang kaya raya dan bekerja pada PT Timah.

Akhir perjalanan saya, saya meluncur ke warung kopi Kong Djie yang terletak di Jalan Siburik. Menjadi salah satu warung kopi tertua di Tanjungpandan, warung kopi berdiri sejak tahun 1945. Saya menikmati teh tarik selain tersedia menu lain seperti Kopi O, Kopi Susu, dan Teh Manis. Juga tersedia aneka gorengan dan kue.

 

**

Penyewaan sepeda: Belly (pin bb 76A1E685); Penyewaan mobil dan jasa wisata: Redy Noviar (081949477779)

Tag : belitung, eksplorasi pulau

Oops! Konten tidak tersedia

Oops! Konten tidak tersedia



Trip terkait

Oops! Konten tidak tersedia