Anda di sini

Explore Curug Lebaksangka Cipanas , Lebak

Tanggal : 4 April 2014
Kota : Cipanas Lebak, Banten
Jarak : 22 km
Kategori : MTB
Level : Intermediate
Durasi : 1/2 hari
GPS : Tidak tersedia
Rating :
4

Setelah lama tidak berpetualang dengan menggunakan sepeda ke pegunungan dan tempat terpencil, hari Sabtu kemarin tanggal 22 Maret 2014 kesempatan itu akhirnya datang juga. Dari beberapa jalur yang telah direncanakan, kami memilih Gunung Endut di Lebakgedong-Cipanas, Lebak dengan pertimbangan jarak tempuh tidak terlalu jauh dan elevasi yang menjadi penanda tanjakan yang harus ditempuh juga tidak terlalu tinggi. Cukuplah untuk awal kembali gowes ke pegunungan.
Sama seperti trek sepeda yang lampau, kami juga belum pernah menempuh jalur ini sebelumnya, jalur sepeda hanya diplot di peta kemudian didigitize untuk diupload ke GPS. Menjadi menarik karena kami sama sekali buta daerah yang akan dilalui, tidak mengenal karakter relief geografisnya dan hanya mengetahui daerah yang akan kita lalui adalah pegunungan dengan beberapa aliran sungai kecil.

Jam 5.00 pagi setelah subuh kami mulai berkumpul di Plaza Cordoba BSD Tangerang Selatan, satu per satu peserta mulai berdatangan. Tak lupa membawa bekal makan siang di warung tedekat, untuk disantap karena jika berpetualang begini nyaris tidak ada warung makan ataupun tempat beristirahat untuk sekedar menanggalkan dahaga. Akhirnya kami berangkat pukul 6.00 setelah loading sepeda ke mobil box. Kali ini jumlah peserta ada 7 orang, semuanya dari sekitar BSD hanya ada 2 orang yang dari Ciputat dan Depok. Perjalanan ke Cipanas, Lebak membutuhkan waktu 3,5 jam. Kami tiba di tempat start di air panas Tirta Lebak Buana pukul 9.30 dan setelah unloading sepeda dan persiapan lainnya kami pun bersiap untuk mengawali bersepeda ke Gn Endut.

Perjalanan dimulai dengan menyusur jalan Banjar Irigasi yang lengang di sepanjang tepian sungai Ciberang. Tampak komplek Pondok Pesantren La Tanza di kanan jalan. Tidak lama berselang kami pun sampai kampung Cikomara dan berbelok ke kanan, dengan melewati sebuah jembatan gantung, kami pun menyeberangi sungai Ciberang. Agak sulit melewati jembatan gantung ini karena jembatan selebar 1,5 meter ini ternyata bergoyang dan mengayun tatkala roda sepeda menjejak papan jembatan yang tampak berlubang di beberapa tempat. Sempat terpelanting namun akhirnya semuanya bisa melewati halangan pertama.
Selanjutnya sepeda membelah area persawahan yang mulai ditumbuhi tunas-tunas padi yang beranjak menghijau menghampar memenuhi petak sawah yang berundak. Udara terasa sejuk dengan angin pelan menerpa, ketika jalan yang terbuat dari perkerasan makadam mulai menanjak. Laju sepeda pun mulai mereda kecepatannya seiring dengan elevasi yang terus meninggi. Kami pun memasuki Kp Ruyung. Tidak tampak adanya rumah di sini, sepanjang jalan hanya ditumbuhi pohon albasia dan tebing-tebing pegunungan yang nampak menghijau oleh vegetasi.

Kami terus mengayuh sepeda ditingkah deru nafas yang memburu, dan detak jantung yang berdenyut cepat. Jalan terus meninggi secara konstan, untungnya selalu diselingi dengan sedikit jalan mendatar sehingga cukup buat kami untuk menghela nafas sebelum kembali mendaki. Benar-benar segar udara di tengah rimbunnya pepohonan, paru-paru dimanjakan dengan oksigen yang bersih dan belum terpapar polusi. Jalanan selebar 1 hasta terus meninggi, acapkali kami berhenti sejenak untuk kemudian mengayuh kembali. Setelah hampir 1,5 jam berkutat dengan tanjakan kami pun tiba di Kp. Padurung, dan ada satu warung untuk istirahat. Kami pun melepas lelah sejenak di sini sambil menikmati segelas teh manis panas dan memesan beberapa butir telur rebus untuk lauk makan siang nanti.
Tak lama beristirahat kami pun beranjak menuju Kp. Sipayung perkampungan tertinggi di Gn Endut ini, beberapa penduduk menyapa mau kemana, karena bagi mereka baru kali ini melihat rombongan sepeda singgah di kampungnya.

Di Sipayung kami pun dibuai dengan keindahan alamnya, kontur perbukitan yang ditingkah dengan sawah berundak sungguh menyajikan keindahan yang sulit dilukiskan. Di sini kami disuguhi turunan bermakasam yang lumayan curam, dengan kombinasi rem depan belakang, direm dan dilepas tuasnya kami menuruni jalan makadam, dan di turunan berikutnya yang mirip turunan S , kami berhenti sejenak menyaksikan paparan lekuk alam yang luar biasa. Sebuah lembah terhampar dengan kelokan sungai lengkap dengan air terjun minimalisnya, dan disusul dengan jalan setapak yang menjulang sangat panjang mengular di sela-sela hutan pohon sengon merayap menuju puncak bukit sebelah. Tidak menunggu lama, kami pun segera turun untuk menuju curug yang menawan melewati turunan setapak yang meliuk-liuk. Setiba di curug tidak ada kata yang terucap. Hanya mulut menganga menyaksikan karya pahatan Yang Maha Kuasa yang begitu indah. Sebuah dangau milik petani seolah ikut menambah keindahan di petak sawah di sela gemuruh air terjun.
Kami pun turun ke curug dan tiada henti mengambil foto di sini, bongkahan batu batu besar bak prasasti saksi bisu bagi awal keberadaan curug ini terhampar berserak di aliran sungai.

Usai berpuas berfoto di curug kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini tanjakan jalan setapak yang tersusun dari bebatuan yang harus kami lalui. Sungguh panjang dan curam tanjakan ini. Bermenit--menit kami bergulat dengan peluh yang mengucur, dan nafas yang tersengal untuk menaklukkan tanjakan ini. Namun gemericik air sungai yang terdengar sepanjang tanjakan ini mampu meredakan rasa lelah. Setelah berhasil mengatasi tanjakan, kembali jalan menurun menuju sebuah sungai yang tidak berjembatan, dan apa yang kami lihat berikutnya sungguh di luar dugaan. Sekelompok kaum hawa ternyata sedang asyik mandi di sungai dengan bertelanjang bulat!! Dan suara sepeda yang mendekat menyebabkan pekikan kecil terjadi diantara mereka sambil tetawa dan berusaha menutup badan. Kami pun tersipu-sipu ketika menyebrangi sungai, sedikit pun kami tidak berani menoleh ke kiri kanan. Sambil mengucap punten teh...kami melewati penduduk yang tengah mandi. Setelah melewati adegan yang mendebarkan ini, kami kembali harus menghadapi jalan yang menanjak. Dan di atas tampak hamparan sawah menghijau dengan latar belakang lembah yang menghijau. Di sini waktu sudah menunjukkan jam 12.30, sehingga kami memutuskan untuj beristirahat di sebuah dangau di tengah sawah untuk makan siang. Di dangau ini dengan menggelar daun pisang kami menuangkan bekal yang sudah kami bawa dan menikmati makan siang di tengah udara yang sejuk dan tertutup awan. Betapa damai dan tenang suasana yang terjelma dari pemandangan, udara yang segar dan suara serangga kadang kicau burung yang melengking di kejauhan. Ingin rasanya berlama-lama di sini namun mengingat waktu kami pun bergegas menuju tujuan sekanjutnya yakni Kp. Cibarani.

Untuk menuju Cibarani, trek yang kami lalui menanjak halus, dan terkadang bertemu dengan warga pemotong kayu yang membawa hasil tebangannya. Kami pun mengerahkan tenaga yang telah pulih setelah beristirahat tadi. Di perjalanan ini mata selalu dimanjakan oleh citra lansekap nan elok, sehingga tidak terasa kami sudah memasuki Cibarani. Di sini kami menjumpai sebuah masjid dan menunaikan ibadah shalat dhuhur di sini. Air wudhunya menggunakan pancuran yang ditampung di sebuah bak besar, dan dengan gayung untuk mengambil air wudhu bukan dengan keran. Sungguh sejuk air ketika membasuh wajah. Usai sholat kami menyempatkan diri minum kopi di warung yang ada di Cibarani sambil bercakap dengan pemilik warungnya dan memperoleh informasi bahwa jalan setapak menuju desa selanjutnya yakni Kp Cigebrok Desa Giriharja berupaka turunan yang panjang dan curam berlumut, sehingga si pemilik warung mewanti-wanti nanti kalau di turunan mendingan dituntun sepedany. Kami pun hanya mengiyakan.
Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Kp Cigebrok, dan ternyata masih satu tanjakan di tengah hutan yang harus kami hadapi. Dengan tenaga penuh kembali kami mengatasi tanjakan ini.

Setelah tanjakan terakhir ini kami disuguhi pemandangan dari atas kecamatan Cipanas. Nun jauh disana nampak Gn Pangradin dan di sebelah selatan nampak berdiri kekar Gn Halimun. Satu per satu kami pun menuruni turunan yang curam, berkelak-kelok terbawa gravitasi sepanjang kurang lebih setengah kilometer. Namun di depannya jalan berubah menjadi turunan beton yang licin dan berlumut, seperti yang dikatakan pemilik warung tadi. Salah satu dari kita sempat terpeleset dan terjungkal di turunan. Berbekal pengalaman ini kami pun menurunkan kecepatan. Tuas rem kami mainkan setengah dan kadang sedikit penuh guna mengerem kecepatan. Akhirnya diturunan ini bisa kami kewati dengan kecepatan lambat dengan varian bunyi decit rem dan gesekan roda yang beradu dengan beton.

Kami pun sampai di Kp Cigebrok diawali dengan tanaman padi yang baru tumbuh. Jalan terus menurun meski tidak securam tadi. Kp Cigebrok merupakan bagian Desa Giriharja yang dilintasi aliran sungai Ciberang. Di Cigebrok ini kami masih menjumpai banyak penduduk yang mandi di sepanjang aliran sungai dengan tidak ada rasa risi karena mungkin sudah terbiasa. Kami sempat mampir mengisi air minum, dan terus melanjutkan perjalanan ke pemandian Tirta Lebak Buana. Di Desa ini aktivitas warga tampak menggeliat di sore hari, dari anak-anak hingga orang dewasa tampak lalu lalang di desa ini. Perjalanan akhir ini terasa datar, dan setelah menyeberang Sungai Ciberang melalui sebuah jembatan gantung kamin pun tiba di tempat finish, dan setelah berganti pakaian langsung berendam di air panas untuk melepas lelah.
Total jarak tempuh 22 km yang membutuhkan waktu 6 jam. Tapi kami puas karena berhasil merangkai jalur di atas peta menjadi kenyataan.
Sampai jumpa di trek berikutnya.

Tag : Lebak, Banten

Oops! Konten tidak tersedia

Oops! Konten tidak tersedia



Trip terkait