Anda di sini

Gowes ke Curug Ciparay, the hidden paradise di belantara sisi barat Gn Salak

Tanggal : 20 September 2014
Kota : Bogor, Jawa Barat
Jarak : 60 km
Kategori : MTB
Level : Advanced
Durasi : 1 hari
GPS : Tidak tersedia
Rating :
0

Sabtu 20 September 2014 kami bersebelas bersepeda explore untuk menemukan Curug Ciparay di lereng barat Gunung Salak. Trip ini merupakan pengulangan trip pada 16 Desember 2012 dimana waktu itu kami hanya mencapai Gunung Menir, satu bukit yang menjadi awal pendakian Curug Ciparay.Saat itu karena kita gowes dari Serpong, sampai di Gunung Menir waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 kami terpaksa membatalkan untuk menuju Curug Ciparay karena jarak masih 4 km lagi dengan rute seluruhnya tanjakan mendongak ditambah berjalan menuruni curug melalui bibir jurang yang berbatu dan merayap melewati lurah yang menganga lebar.Berbekal pengalaman 2 tahun yang lalu, kami mengambil start dari parkiran IPB Dramaga, Bogor. Sehingga jarak tempuh lebih pendek kita juga lebih bebas memilih rute blusukan untuk menghindari jalan raya, serta kendaraan. Sekitar pukul 7.30 kami bersebelas memulai mengayuh sepeda menyusuri Jalan Raya Bogor-Jasinga, sekitar 300 m kemudian kami belok ke arah selatan menyusuri gang kecil menuju Babakankemang, suasana di sini dipenuhi kegiatan warga yang memanen jagung, bertumpuk jagung hasil panen berserakan di sepanjang jalan yang selebar 2 meter.Jalanan diselingi tanjakan-tanjakan kecil namun frekuensinya cukup sering sehingga kita harus pandai-pandai mengatur nafas agar tidak cepat habis.Berikutnya selepas perumahan Griya Salak Endah kami mengikuti jalan setapak sepanjang jalur irigasi, tampak pepohonan yang eyup dan rindang menaungi jalur yang kami tempuh. Kami mengikuti alur jalan setapak yang berdampingan dengan saluran irigasi di sisi kiri dan bentangan sawah di sisi kanan. Kontur jalan pun mulai meninggi namun derajadnya masih kecil.Dan keringat pun mulai mengucur deras, celotehan para peserta juga mulai berkurang, lebih tersita konsentrasi ke trek dan mengatur nafas.Samping saluran air Selang beberapa saat kemudian kami memasuki Desa Cibuntu, satu desa yang berdiam di sisi aliran sungai Cibuntu yang berbatu dan curam namun tampak mulai mengering karena musim kemarau. Di sini seharusnya menyeberang sungai Cibuntu ini melalui sebuah jembatan bambu. Namun setelah kami lihat kondisinya begitu mengkhawatirkan, selain lapuk dimakan usia tampak sambungan yang berfungsi seperti rangka cremona pun sudah banyak yang lepas karena pasak dan talinya sudah aus. Apalagi setelah dicoba untuk dilalui, timbul bunyi gemeretak yang cukup keras sehingga kami menyimpulkan jika dilalui sebelas orang plus sepeda, maka jembatannya tidak akan kuat.Cibuntu Akhirnya kami mencari jalan lain untuk menuruni sungai yang curam dengan estafet untuk memindahkan sepeda ke seberang melalui sungai yang mengering. Di sini waktu yang terbuang cukup banyak,  selain medannya sulit rumpun bambu yang lebat juga mempersulit untuk lewat baik sepeda maupun orangnya. Lepas dari rintangan menyeberang sungai sebuah tanjakan yang agak panjang untuk menaiki tebing sungai yang curam pun tampak di depan mata. Kembali kami pun meregangkan otot paha untuk mengayuh mendaki ke atas,  menuju tepian sungai Cibuntu yang dipenuhi ratusan pohon bambu.Setelah tanjakan ini usai kembali kita masuk ke perkampungan yang bernama Pasarsalas, kemudian berlanjut ke kampung Cisalada dan disambung dengan menyusuri jalan setapak di kebn dan persawahan untuk sampai di Kp Cikoan.Nanjak tebing sungai Dan setelah lama mengarungi perkampungan dan kebon yang rindang, tiba saatnya untuk menyusuri jalan raya di Gn Menyan dengan kontur yang menanjak halus tetapi terus-menerus.Waktu menunjukkan jam 10.00, kami pun mengambil nafas sebentar dengan beristirahat di Kp Pasarjumat untuk meneguk segelas teh manis panas, sambil melemaskan otot paha yang mulai berasa mencengkeram kaki. Sejenak beristirahat sudah cukup waktu untuk meluruhkan asam laktat yang mulai berakumulasi di setiap jengkal otot-otot baik di betis maupun paha. Kami kembali melanjutkan perjalan dengan mengambil jalan pedesaan melalui Kp Pangkalan, dengan kontur sedikit mendongak. Perlahan tapi pasti kami menunaikan tanjakan ini. Jalanan tetap meninggi dengan ujian berupa tanjakan dahsyat seteah menurun untuk menelewati sungai. Satu peserta sempat mengalami kram, sehingga kita bantu untuk mengatasi kramnya. Setelah beberapa saat kramnya pun sirna dan kembali kami mendaki tanjakan yang benar-benar memanjakan pemakai chain ring 41. Sekayuh demi sekayuh kami menamatkan tanjakan inj dan tiba Kp Cikaramat Desa Ciasihan. Sambil menunggu rekan yang lainnya kami melihat ada plang penunjuk arah Curug Ciparay tinggal 4 km lagi. Kampung MasigitJarak 4 km ternyata tidak bisa dilalui dengan mudah, tanjakan demi tanjakan yang benar-benar dahsyat mulai berasa. Tanjakan masih berupa aspal di jalan desa Kampungmasigit, dan di sini mulai sering berhenti untuk mengambil gambar dengan kamera, karena selain sejuk panorama alam yang terpampang di hadapan kita benar-benar jelita untuk dilewatkan.Selepas Kampungmasigit tanjakan semakin menggila ketika kami meniti jalanan di Gunung Menir, selain meliuk sudut yang tersaji sudah menyebabkan tidak nyaman untuk duduk di sadel, karena ujung sadel yang terlalu ke atas menohok antara kedua paha. Melewati tanjakan Gn Menir ini sungguh membuat kami mengerahkan  segenap upaya untuk menaklukkannya.Usai tanjakan Gn Menir ternyata kembali kami disuguhi tanjakan yang menjulang tinggi, kali ini dengan jalan yang terusun dari makadam dan batuan lepas. Kembali kami cukup sering berhenti selain untuk mengambil nafas untuk memulihkan deraan siksa laju asam laktat, juga demi untuk sebuah jepretan pahatan alam yang sungguh masih sangat perawan.Sawah yang berundak dengan dibatasi lebatnya hutan pinus dan diselimuti kabut tipis yang menggelayut di sela-sela pepohonan.KiarapayungDi ujung tanjakan, kami disambut hujan lebat. Kami berteduh di sebuah masjid di Kp Kiarapayung sambil menunaikan shalat Dhuhur. Hujan kian lebat, menjadi hujan pertama yang turun untuk memupus musim kemarau yang telah berjalan sekian lama. Hujan juga cukup lama, ada barang satu jam lamanya kami menunggu. Dan ketika hujan berubah menjadi rinai gerimis, kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Kp Kiarapayung.Panorama di KiarapayungRute perjalanan semakin mengganas, tanjakan yang semakin curam berupa makadam lepas, namun panorama alam semakin mempesona. Altimeter menunjukkan ketinggian 1050 m, jalan masih tetap menanjak hingga akhirnya kami sampai ke Kp Ciparay, kampung terakhir sebelum memasuki Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan elevasi 1100 m.Sesampainya di Kp Ciparay perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki, sepeda kami titip di rumah terakhir dan tampak menyendiri di ketinggian dan diselimuti kabut tipis milik Bp Komar namanya. Bp Komar bahkan menyuruh anaknya yang bernama Anggit untuk mengantar sampai Curug Ciparay karena medannya yang berat dan tersembunyi. Jarak menuju Curug Ciparay seperti terpampang dalam penunjuk arah adalah 543 m,  kami dengan tekun meniti  jalan berbatu yang licin disiram hujan dengan hati-hati. Terkadang kami merayap di bebatuan untuk menapaki jalan dimana di sebelah kiri adalah jurang dan sebelah kanan berupa tebing tegak berbatu. Sepanjang perjalanan tidak kami jumpai seorang  pun. Suasana dingin ditingkah deru air sungai dan desing angin yang bertiup memaknai sesuatu yang hanya bisa dirasakan sanubari terdalam. Alam sungguh mempertontonkan kemewahan suasana dan panorama yang sulit dirangkai dengan kata. Air terjun kecil kami jumpai sepanjang perjalanan, dan kamera tidak henti hentinya merekam segala yang terpampang di sana.Akhirnya kami sampai juga di Curug Ciparay, sebuah dinding air tegak setinggi lebih 50 meter seolah menjadi singgasana pemuncak alam terpampang di depan mata, air terjun yang membuncah pun berlompatan menghunjam bebatuan di sungai di bawahnya.Curug CiparaySejurus kami terdiam terpana menyaksikan guratan nan luar biasa indah yang belum pernah kami jumpai, dan kemudian tepuk tangan pun menggema di ceruk sungai yang menjadi mimbar bagi sang Curug Ciparay. Semua berseru, bertasbih melihat keagungan tangan Tuhan membentuk, memahat dan meniupkan fenomena alam ini.Kemudian seperti biasa fase foto menjadi acara utama, semuanya mengeluarkan kamera atau smart phone untuk mengabadikan keindahan ini, apalagi kata Anggit si pemandu jalan , kami adalah pesepeda pertama yang mengunjungi Curug Ciparay. Cukup lama kami bercengkerama, menikmati bebatuan dan gemericik air yang jatuh ke sungai. Beberapa teman bahkan berendam di Curug Ciparay, mengalahkan hawa dingin yang menusuk.Setelah puas berada di curug, kami pun memutuskan untuk kembali. Perjalanan kembali terasa ringan dan sesampai di rumah Anggit kami pun disuguhi kopi panas dan pisang goreng panas sambil berbincang bincang sembari shalat ashar bergantian.Akhirnya tepat pukul 17.00 kami pamit mohon diri untuk kembali ke Dramaga.Perjalanan pulang ini sudah barang tentu turun dari elevasi 1100 m ke 240 m. Rute pulang tidak melalui Gn Menir, melainkan ada jalan pintasmenuju Cikaramat, dan selebihnya kami turun melalui jalan raya. Waktu yang dibutuhkan menuju Kampus IPB Dramaga adalah 1,5  jam. Total jarak tempuh adalah 60 km pp.Sampai jumpa di perburuan curug selanjutnya. 

Tag : Gn salak, curug ciparay

Oops! Konten tidak tersedia

Oops! Konten tidak tersedia



Trip terkait